Pilihannya hanya ada dua jika orang-orang TOLOL ini masih terus dibiarkan melakukan terus keTOLOLannya. Lihat lebih dekat akibat-akibat lain yang timbul dari keTOLOLan yang terjadi setiap hari di jalanan sekitar kita.

Korban TOLOL yang mengalami kecacatan:
  • Marah, trauma, sedih, depresi. Sebagian dari kita megeluh depresi ketika sinyal telephone tidak maksimal atau asisten rumah tangga keluar. Bagi mereka yang baru pertama kali merasakan cacat?
  • Produktivitas korban menurun. Bapak tiga anak yang korban tabrakan itu harus berpikir 10 kali untuk cari kerja yang bisa terima dia dengan kondisi tangannya yang tidak sempurna lagi.
  • Biaya pengobatan yang terus menerus dibutuhkan korban. Kondisi Ibu korban tabrakan itu mau tidak mau membutuhkan banyak pengeluaran agar bisa kondisinya berangsur-angsur bisa pulih kembali. Itupun kalau bisa pulih secara normal.
  • Korban membutuhkan bantuan dari orang terdekat. Janda korban tabrakan ini mau tidak mau mengandalkan anaknya yang masih sekolah untuk mengurus kondisinya yang tidak banyak bisa berbuat akibat kecacatannya. Si anak putus sekolah? Pastinya. Anda lihat, kelakuan orang TOLOL baru saja merampas masa depan seorang anak.
Anggota keluarga korban yang mati akibat keTOLOLan:
  • Secara mental pastinya kacau. Sedih? Ditolak calon pacar saja sudah galau. Bayangkan hancurnya hati seorang anak yang Ibunya baru jadi korban tabrak mati.
  • Bapak ini hancur dan menjadi depresi ketika anak yang dia boncengi tanpa helm ini nyawanya tidak tertolong lagi akibat tabrakan tadi. Yes, penyesalan selalu datang terakhir.
  • Kondisi keseharian berubah total. Kecelakaan menimbulkan pemiskinan terhadap 62,5 persen dari keluarga korban kecelakaan yang meninggal, sedangkan bagi korban luka berat 20 persen mengalami pemiskinan dan penurunan tingkat kesejahteraan. Setelah sang Bapak telah tiada akibat kecelakaan. Si Ibu terpaksa harus bekerja ekstra keras pulang malam dan si anak pulang sekolah langsung jualan untuk menanggung biaya hidup. Mau gaul? Lupakan saja.